Sabtu, 23 Agustus 2014

Pangeran Bertopeng dan The White Horse



Monica berusaha bergerak. Tapi tak bisa!
Entah apa yang diucapkan Putri Beatrix kepada pengawal-pengawalnya. Monica tak bisa mendengarnya. Ia hanya berpikir bagaimana melarikan diri.

Saat kedua pengawal itu berusaha menyergapnya, Monica mendaratkan pukulan  di bagian kepala mereka.

“Brak…” keduanya bersamaan jatuh ke tanah. Monica berhasil mempraktekkan jurus karate yang dipelajarinya saat masih tinggal di bumi.

Pertarungan pun tercipta dan membuat semua mata yang ada di ibukota Euro World itu menyaksikannya. Euro World dunia lain yang penuh pertikaian dan perang saudara.

Anak buah Beatrix terus bertambah. Dari dua orang menjadi belasan. Jelas pengawalnya banyak karena ayahnya penasihat Raja di negeri itu.

Monica kewalahan. Ia pun terpojok sampai ke tempat parkir kuda.  Disana ada The White Horse yang telah berhasil melumpuhkan dua pengawal yang mengejar Monica.

“Tuhan tolonglah aku...” ucap Monica. Selusin pasukan datang lagi untuk menangkapnya.

“Srett..” Monica berhasil merebut sebilah pedang dari pengawal yang berhasil dijatuhkan The White Horse. The White Horse dalam keadaan terikat dan Ia pun tak bisa membantu anak angkat Ratu Victoria yang merupakan adik Raja itu.

“Untunglah aku ikut kelas anggar di sekolah,” bisik Monica.

Pertarungan pun terjadi.

Monica terus memberikan perlawanan. Bunyi pedang saling bergesekan terus membahana. Setelah berhasil menjatuhkan beberapa pengawal, Monica kelelahan. Tak ada orang lain yang membantunya. Rugby dan Anthony belum juga datang.

Sebuah mata pedang hampir saja menyayat leher seorang pengawal. Monica tak tega. “Aku tak mau membunuh!”

Dalam kegalauan itu, dua pengawal lainnya berhasil melumpuhkan Monica. Monica tak berdaya. Ia kalah.

Tiba-tiba… 

“Sring!” Bunyi pedang saling memukul.

Seorang pria berjubah hijau tua menghantam pedang yang sedang dihujumkan dekat leher Monica. Ia baru saja melompat dari atap toko dan langsung menyerang pengawal yang menahan Monica.

Pria misterius ini meloncat bagaikan Kangguru. Pun secepat kilat. Monica yang tadinya ada di genggaman para pengawal Beatrix kini terselamatkan.

“Sssuit…”
Siulan itu membuat puluhan kuda yang terparkir disitu berteriak termasuk The White Horse. Bahkan The White Horse berhasil melepaskan ikatan dari pelananya dan mendekat kearah pria misterius yang sudah menyelamatkan tuannya.

Secepat kilat, pria ini sudah berada di atas The White Horse. Monica duduk dibelakangnya. Monica hanya terdiam, menyadari siapapun pria ini, dia sudah menyelamatkan nyawanya.

Puluhan pengawal Beatrix mencoba menyerang tapi The White Horse secepat kilat keluar dari lokasi itu. Melalui gang-gang sempit seperti sebuah jalan rahasia.

Sekitar 1 kilometer dari kota mereka berhenti. Tidak ada satu orangpun yang mengejar mereka.  Mereka turun dari punggung The White Horse. Berhenti di tepi sungai kecil di situ. 

The White Horse bergegas minum. Monica pun ikut mengambil air lalu membilas wajahnya.

Pria misterius ini tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kamu siapa? Kenapa menolong aku?”

Pria bertopeng ini memalingkan wajahnya. Ia terus berdiri di tepi sungai seraya menatap aliran air jernih di situ.

“Apa kamu bisu?” ucap Monica.
“Kamu tidak akan memperkosa aku kan?”

Saat mendengar pertanyaan itu, pria bertubuh tinggi ini memalingkan wajahnya. Ia sepertinya sedang tertawa.

Saat Monica membalikkan badannya, Ia terperajat. Pria yang tadinya duduk bersandar di pohon rindang itu lenyap. Hanya ada The White Horse yang asyik minum dari sungai itu. 


Cat:
Ini penggalan cerita BAB III (dari tulisan total VIII bab yg sudah ku publish di blogku) berjudul Euro World yg masih amburadul krn aku mengunakan jasa pengetikan yang ternyata tak mengerti pengunaan tanda baca... hahaha.. biar ada yg editing sekalian.. Total 496 kata.


Sabtu, 16 Agustus 2014

Selingkuhkah?



Es Cream Sundae

“Aku sudah dekat rumahmu. Kita cuci mobil sambil makan di tempat biasa, yah sayang.”  


Belum sempat ku jawab. Suara dari balik telepon menghilang.  Sudah setahun hubungan kami dan kekasihku itu memang sudah tidak suka berbasa-basi di telepon.  


Lima menit kemudian dia tiba depan rumah. Masih jam 10 pagi.


“Masih ngantuk sayang?”


“Iya. Tidur subuh. Biasa kerjaan.”


Dia memelukku dari belakang. Sisir yang kupegang  tersingkirkan. Ingin menikmati belainnya.


Akupun berusaha meraih telapak tangannya. Terasa dingin.


“Sundae?”


“Iya sayang. Kesukaanmu coklat vanilla.”


Aku tersenyum. Walau ada aroma parfum berbeda. Dahiku berkerut. Tak mau curiga. Pikiran negatif akan menghancurkan konsentrasiku untuk menyelesaikan proyek 100 juta bersama dua rekanku. Deadlinenya hari ini.


“Ku suapin yah, sayang.”


Aku hanya diam.


“Sundae pagi-pagi.. Kamu banget yah sayang.”


Dia tertawa.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wajahnya tampak pucat.


“Dari klien. Aku tunggu di mobil, yah.”


Aku bergegas. Butuh satu menit karena harus mengambil laptop.


“Klien baru?”


“Iya sayang”


“Oh. Perempuan yah?”


“Jangan mulai lagi deh sayang.”


“Iya. Kalau pucat begitu mukamu pasti perempuan.”


“Hahaha.. Udah deh sayang abisin aja tuh es cream ntar cair.”


Aku diam, berusaha mencari waktu yang tepat untuk bertanya. Apa benar dia yang baru cek out dari Hotel Sintesa Peninsula jam 6 tadi? Selingkuh? Hemmmm.








Selasa, 08 Juli 2014

Pangeranku



LAMUNANKU terhenti saat Diana menyapaku dari ujung lorong sekolah. Tepatnya di jalan menuju kantin sekolah, tiga bilik dari ruang kelasku.

Kakiku seakan tak mau meninggalkan bangku kayu di depan bilik kelasku ini. Aku memang terbiasa menghabiskan waktu istirahat di bangku berwarna coklat kehitaman ini, sambil membaca buku atau menatap semua yang lewat di lorong sekolah kecuali marmut. Aku tak suka marmut!

"Ayo Monmon.."
"Hemmm..."

Setelah menarik nafas aku mencoba merapikan tali sepatuku dan berjalan menyusuri lorong sekolah, sebelum Diana datang menyeretku.

Diana adalah sahabat dekatku dan dia tahu ada hal lain yang membuat kakiku seperti dipasung di bangku ini. Ya benar..lamunanku yang mahal. Aku masih menikmati bayang-bayang Euro World didalam benakku. Aroma tubuh Richard masih menempel di hidungku. Yah jelas.. Aku merindukannya. Pangeran berambut hitam dengan kulit putih yang mulus dan bola mata berwarna coklat muda yang berkilau. Pangeran dari Kerajaan Meares yaitu salah satu kerajaan terbesar di Euro World yang piawai bertarung dengan pedang.

"Monica.. Ayo ke kantin.. Yang lain sudah di sana.."
"Iya..Iya..Miss Marmut" jawabku mencoba menghentikan teriakan selanjutnya.

Apalagi teriakan Diana itu sudah membuat beberapa teman yang ada di lorong sekolah menatap aneh. Suara cemprengnya memang mengoda. Seperti ada nada dangdut dalam intonsi ajakannya itu.

"Jam istirahat sudah hampir selesai.. Ada murid baru di sekolah kita dan dia lagi di kantin,"
"Terus.. sudah lapor Pak RT ?"
"Monmon.. Sejak tengelam di pantai sepertinya kejiwaanmu terganggu.. Murid baru melapor ke Kepala Sekolah kan bukan Pak RT?"

Wajah Diana mengkerut. Aku menyambutnya dengan tertawa.

"Iya maksudku gak usah heboh begitu kan? Murid baru di sekolah ini kan hampir setiap bulan ada. Jadi, biasa ajalah Marmud cantik,"

Aku masih melanjutkan tertawa.

***

"Richard?"
Aku terdiam. Diana terus menarik-narik lengan kananku. Terasa sakit. Aku tidak bermimpi. Murid baru itu Richard.

"Tidak mungkin..." ucapku pelan. Masih menatap ke arah cowok yang sedang menikmati mie bakso dengan lahap.

"Tuh kan? Yang ini beda kan?" bisik Diana yang tanpa ku sadari telah menarikku duduk.

Vannesa, Mario, Michael dan Hendrik sudah duduk di posisinya masing-masing. Meja di kantin itu memang sudah menjadi milik kami tapi kali ini aku ingin duduk di meja dekat kasir tempat si murid itu duduk.

"Anak baru.. Sepatunya bermerek.. Katanya sih tadi pagi diantar mobil Mercy terbaru. Yah.. Wajarlah kalau kalian para wanita tergoda.." kata Mario sembari melirik pacarnya Vannesa yang juga sahabatku sejak Taman Kanak-kanak.

"Cintaku hanya untukmu beib.."

Ungkapan Vannesa itu disambut riuh tawa teman-temanku di situ.

Richard menatapku. Riuh tawa itu berhasil mencuri perhatiannya. Ia menatap ke arah meja kami. Ke arahku yang sedang menatapnya. Kami saling menatap entah berapa lama. 

“Akhirnya aku menemukanmu dan kali ini aku tak akan melepasmu.” Gumanku dalam hati.




Euro World II


"Aku akan menunggumu entah berapa lama."

Itulah yang diungkapkan Richard, saat aku tak sengaja mengutarakan kerinduanku untuk bertemu keduaorangtuaku.

Aku terdiam. 

Kepalaku masih menempel di dadanya, sehingga aku bisa mendengarkan bunyi detak jantungnya. Kami sedang tiduran di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon rindang nanhijau,


Hampir dua jam kami menatap langit biru.  Richard tak pernah bergerak banyak, Hanya sesekali mengusap dahiku. Ia tak pernah menyentuh bagian tubuhku yang lain. Sesuatu yang tak mungkin dilewatkan pria manapun di duniaku ketika hanya berdua, di hutan dalam status resmi berpacaran.

Ia memang berbeda. Sopan dan setia.  Aku mencintainya.

"Sudah 306 hari aku meninggalkan rumah. Membayangkan perubahan yang terjadi di sekolahku dan di kotaku."

Perkataanku hanya disambut belaian lembut di dahiku lagi.

"Aku berharap mendapat cara kembali ke bumi. Hanya untuk meminta maaf dan berpamitan kepada keduaorangtuaku, kakakku dan sahabat-sahabatku."

"Iya sayangku Monica.. Kita akan menemukan cara untuk kembali. Aku rasa Bibi Victoria bisa membantu."

"Benar…" ucapku.

Kami duduk dan saling menatap. Telapak tangannya  tiba-tiba memegang lembut kedua pipiku. Spontan ku tutup mataku. Berharap bibirnya akan mendarat ringan di bibir mungilku.

Tapi tak ada ciuman. Ia menarik tanganku dan hanya dengan satu siulan kuda putihnya sudah datang menjemput kami.

***

Tak akan kukatakan ke mana aku pergi karena mereka akan menyebutku gila. Euro World adalah dunia baru yang tak ada dalam globe ataupun daftar pulau-pulau di bumi yang pernah ada namun hilang. Euro World adalah dunia dengan dimensi yang berbeda. Aku ke sini karena termakan pusaran air saat berenang di Pantai Green Peach. 

"Iya benar pusaran air."

Aku terjaga. Ku langkahkan kakiku setengah berlari menuju Ruang Perpustakaan di ujung kastil milik Victoria ini. Aku menumpang di sini dan 306 hari cukup bagiku untuk menghafal setiap posisi buku.  
Dan akupun menemukan jalan kembali ke bumi tapi aku akan kembali untuk menikah dengan kekasihku sepenuhnya menjadi warga Euro World.


 




Senin, 07 Juli 2014

BAB VIII: Perang Sama Kuat

PERANG terjadi antara pasukan meares dan pasukan Newmont. Perang berlangsung di Padang Efgrohood. Banyak prajurit yang meninggal. Banyak juga yang luka – luka. Perang ini sama kuat.
Melihat kondisi ini, jendral gaktin segera mengambil tindakan. Ia mengirimkan seorang pengawal terbaiknya untuk menyampaikan sepucuk surat. Surat itu bukan berisi perihal untuk mengalah atau mundur dari perang. Surat itu berisi tantangan. 

Jendral Gaktin tak ingin banyak lagi prajurit kedua belah pihak akan menjadi korban. Iapun memperhitungkan logistik mereka yang semakin menipis. “Siapa yang menang dalam pertarungan duel pedang, harus menerima kekalahan. Hanya manusia yang pengecut dan tidak bijak yang akan menolak ide baik ini.” Itulah sebait dari isi surat yang ditulis jenderal gaktin ditujukan kepada pimpinan pasukan Newmont kingdom.
“Jenderal gakin kehilangan 50 persen (25.000) pasukannya karena terjebak dalam strategi perang “gurun pemangsa” yang dipakai pasukan Newmont. Banyak prajurit yang dimakan gurun pasir. Sementara Richard tak bisa konsentrasi karena monica ternyata diculik pasukan Newmont. Nanum sebagai seorang pimpinan prajurit, Richard tak mau patah arang.
“biarkan saya yang bertarung…”kata Richard. Disudut utara padang pasir efgrohood, terdengar bunyi sangkakala pertanda aka nada pertarungan besar. Richard telah siap dengan baju zirah, 2 pedang andalannya dan tameng berwarna keemasan dengan lambing meares kingdom.
Baru saja akan keluar dari tenda miliknya, Richard dihadang bronly dan jenderal gaktin. “pasukan maupun pimpinan pasukan Newmont tak bisa dipercaya. Maka sebaiknya, jangan pangeran yang bertarung biarkan orang lain,”ujar jenderal gaktin. Richard hanya terdiam.
“kita hanya diminta mengirimkan utusan artinya tak ada keharusan pangeran yang harus bertarung, ujar jenderal gaktin. “saya akan mengantikanmu,”ujar bronly kepada Richard. Mereka pun menyusun strategi agar saat pertarungan Richard mengambil sejumlah pasukan khusus untuk menyelinap ke istana Newmont dan menyelamatkan monica.
“aku tahu kamu sangat mencintai monica. Makanya, sebagai saudaramu biarkan aku membantumu Richard,”ungkap bronly. Tiada satu katapun terucap dari bibir merah Richard. Perasaan dan pikirannya bergejolak. Pertarungan pun dimulai.
Dari kerajaan Newmont, pangeran harry yang mewakili. Harry menunggangi kuda hitam yang kekar nan gagah. Ia muncul dari tengah-tengah kerumunan pasukannya. Ia membawa sebilah pedang berkilau yang telah di angkatnya tinggi-tinggi ke langit hingga membuat haru sorak berapi-api dari pasukan yang dipimpinnya itu.
Bronly ternyata menggantikan Richard. Informasi itu entah dengan cara apa telah diketahui pasukan Newmont. Bahkan pangeran harry telah memerintahkan pasukan khususnya juga untuk mengamankan kerajaan dan membunuh pangeran Richard jika didapati menyusup ke sana.
Pertarungan di mulai, bronly yang juga ahli pedang tampak seimbang melalui pangeran harry. Hanya saja, harry menggunakan cara yang curang. Ketika pertarungan berlanjut tampa menunggangi kuda, harry melemparkan pasir ke mata bronly sehingga bronly kehilangan penglihatan (focus) serangannya. “sergh,”satu bentangan pedang tajam yang menghujam bronly sempat di tangkisnya. “hiath!!! Hiath!!!” dua puluhan pedang menghantam dengan keras membuat bronly terjatuh dan tergeletak.
Mata pedang pun ditusukkan ke tubuh bronly dan hanya terdengar serangan dari tanda nafas-nafas terakhir. Pasukan Newmont bersorak mereka menang dan pasukan meares harus segera balik kanan sesuai perjanjian. Sementara itu, pangeran Richard dengan mudah menyusup ke dalam istana, iapun curiga dengan kemudahan itu.

Monica disekap di sebuah kamar megah. Ia tidak ditempatkan dalam kamar tahanan karena rongkau (peramal/penasihat kerajaan Newmont) memperingatkan hal itu. Lagipula pangeran zefanya yang memimpin pasukan saat menculik monica tampak jatuh hati kepada monica. Begitupun pangeran harry yang terkenal kejam dan sulit mengagumi wanita ini.
Di kamar tempatnya disekap, monica hanya bisa termenung. Ia pun berdoa mohon agar nasibnya tak berakhir di negeri asing baginya ini. sinaya selalu berada disampingnya. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. “bawa gadis ini keluar (seraya menunjuk kearah sinaya),”teriak pangeran zefanya.
“apa yang akan kalian lakukan. Lepaskan dia! Bunuh saja aku,”teriak monica. “tenang gadis cantik, aku tak akan membunuhnya,” ujar zefanya sopan. Pintu kamar tertutup. Sinaya dibawa keluar kamar yang terletak di dalam istana Newmont itu. “aku hanya ingin memastikan kamu sehat,” kata zefanya.
“terima kasih, aku tak butuh perhatianmu!”sergah monica “baiklah! Aku akan pergi! “ucap zefanya. “tunggu” teriak monica membuat langkah zefanya diam. “mengapa kalian tidak membunuhku? Kalian malah memperhatikan aku. Kalau demikian, lepaskan saja aku,”bujuknya
“kita lihat saja, saat perang berakhir,”jawab zefanya “apa maksudmu?” “putra mahkota meares sudah terbunuh. Perang sudah kami menangkan, jadi…” “tidak mungkin!”potong monica. “tidak mungkin Richard mati!” mendengar ucapan ini, zefanya tertawa. Ia pun yakin Monica bukanlah gadis biasa karena kelihatannya ia dekat dengan Richard.
 “ maafkan aku tetapi itulah yang baru saja terjadi,” kata Zefanya seraya menatap tajam Monica  dan berlalu pergi dari kamar itu.
    Sinaya pun diijinkan masuk.
    “Monica…Oh putrid Monica, saya mendengar kabar buruk.” Kata sinaya.
    “ Sudahlah aku sudah tahu,” mata Monica berkaca-kaca. Saat itu senja telah tiba.
    “ Kita harus cari cara agar bisa melarikan diri,” kata Sinaya.
    “ Benar,” kata Monica.
    “ Aku akan pura-pura menemani pangeran Zefanya. Aku ingin menyanderanya agar kita dibiarkan pergi,” Monica
Sinaya “tetapi itu terlalu berbahaya” monica “tidak ada cara lain,” hal itupun dilakukan monica. Ia pun diijinkan pelayan menemui zefanya di bilik khusus pangeran bungsu itu. Di ruangan itu tidak ada zefanya, yang ada hanya 5 orang pasukan berbaju serba hitam. Monica dijebak.
“tahanan ini sudah tidak berguna. Ayo kita nikmati,”ujar seorang disitu. Disaat akan menerkam, monica menghindar. Beberapa dari mereka berhasil dijatuhkannya karena melawan satu persatu. Wajah bengis dan ganjen tampak dibalik profesi pimpinan pasukan Newmont ini.
“tidak!!!” teriak monica saat lengan bajunya terkoyak. Saat tubuhnya terjatuh, monica terperanjat/kaget. Di depannya berdiri sosok pria yang sedang di rindukannya yaitu Richard. Tampa banyak bicara, Richard menebas satu persatu dari ke 5 pria brengsek itu. Bilik itu aman, pasukan khusus Richard sekitar 7 orang, melihat kondisi tersebut.
Tampa berkata apa-apa,Richard langsung memapah monika dan memeluknya erat. Monica pun tak kuasa menahan rasa bahagianya bertemu Richard. Ia mencium bibir Richard, keduanya saling berciuman mesra. “aku mendengar kabar…”Tanya monica “cup…!!!”bisik Richard.
“aku akan selalu bertahan untuk hidup demi kamu yang aku cintai…sayangku…belahan jiwaku,”lanjut bisik Richard. “pangeran, ada yang datang !”kata seorang pasukannya. Ternyata zefanya yang baru saja kembali ke ruangannya. Pintu terbuka, zefanya hanya tampak tenang melihat ada penyusup.
“aku tahu kalian pasti datang. Tapi, perang sudah berakhir. Pergilah..bawalah gadis iu. Dia terlalu sempurna untuk dibunuh. Lagipula jiwanya sudah mati jika lebih lama ada disini,”ucap zefanya. Pedang yang akan menghujam zefanya terhenti. Richard member isyarat agar tidak bertarung melawan zefanya, sementara itu, zefanya terus menatap monica, gadis yang juga disukainya.
Genggaman Richard tak lagi lepas dari bahu monica. “mereka layak menerimanya,”ujar zefanya seraya menatap ke lima pasukannya yang sudah tewas. Ternyata rencana bejat untuk memerkosa monica, tampa sepengetahuan zefanya karena ia sedang menghadap ayahnya raja Fernando.
“sinaya…akhirnya kita selamat,”kata monica saat melihat sinaya datang dari belakang zefanya. “pergilah…”kata sinaya “kamu?” Tanya monica “rumahku disini,” ucapnya. Monica akhirnya mengerti bahwa sinaya bukanlah relawan dari pasukan pembawa makanan cadangan meares. Ia adalah mata-mata Newmont kingdom.
“maafkan aku, senang bisa menjadi sahabatmu,” kata sinaya. “monika…ayo kita harus pergi,”kata Richard. Tampa ada pertumpahan darah, Richard berhasil menyelamatkan monika. Merekapun kembali kepada pasukan meares yang tengah bersedih karena kekalahannya. Perang ini belum berakhir…”ungkap jenderal gaktin setelah bertemu dan member laporan kepada pangeran Richard.
“bronly sudah tewas, pasukan kita sudah kehabisan makanan cadangan. Sebaiknya kita mundur untuk mengatur kembali strategi,”kata gaktin. Pagi itu, pasukan meares segera bergegas kembali pulang. Sedangkan di istana Newmont tampak sorak-sorai dari prajurit dan masyarakatnya karena adanya kabar kemenangan.
Pangeran harry disambut sorak saat menyusuri jalanan kota Newmont pagi hari itu. Dalam perjalanan pulang, ada sejumlah beban yang dipikirkan Richard. Ia sadar telah mengecewakan ayahnya karena adanya kekalahan ini. “kamu sudah berusaha, sudahlah. Wajahmu jelek kalau bersedih,” kata monika kepada pangeran Richard.
Richard pun tersenyum “asalkan bersamamu, dibunuh ayahkupun aku rela,” bisik Richard. Kendati kalah. Perjalanan pulang ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi Richard. Sebab monika telah berhasil di selamatkannya.
“apa gunanya aku hidup dalam kejayaan dan kesuksesan tetapi kehilangan cintaku yang adalah kunci kehidupanku?” kata hari Richard yang membuatnya senyum sendiri sambil menatap monika yang sedang berada disampingnya.

***
Raja meares, kingjeremiah telah mendengar kabar kekalahan ini, ia hanya tersenyum. Begitupun saat pangeran Richard dan jenderal gaktin melaporkannya secara resmi. “Sudahlah…!!! Kalian istirahatlah dan begitu juga para pasukan,” kata king jeremiah biajk.
Suasana istana meares sunyi senyap. Tidak ada bunyi musik ataupun  sorak-sorai. Yang ada hanyalah ratap tangis keluarga pasukan yang tewas. Hal ini berlangsung selama beberapa hari. Pada hari itulah, monika tak mau menunggu lama ia segera pulang ke kastil Victoria bersama marthin yang menjemputnya sejak di medan perang.
 
Keesokkan harinya, Richard segera menyusul monika, lagipula Richard diminta ayahnya untuk menenangkan pikiran disana. Richardpun bisa berduaan dengan monika, Victoria, emma dan marthin sangat senang melihat hal itu. Kendati demikian, kedua muda mudi ini tak pernah berhenti berdebat tentang masalah kecil sekalipun
 
Selama beberapa hari, Richard menikmati harinya bersama monika namun terpancar wajah sedih karena pasukannya banyak yang jujur. Monika berusaha menghiburnya. “Ayo kita ke Lembah Patah Hati. Aku ingin membantumu memetik mawar,” ajak Monica.  “Ayo!!! Aku ingin melanjutkan ciumanku yang sempat terhenti dulu...” jawab Richard.
Monica hanya tersenyum dan mereka saling menatap lalu tertawa.

*THE END*